Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul di grup-grup freelancer, biasanya jam 11 malam, saat orang lagi galau lihat saldo: "Mending gue nabung dulu atau lunasin utang dulu, nih?"
Gue pernah ada di posisi itu. Dua-duanya terasa benar. Dua-duanya juga terasa mendesak. Dan karena penghasilan kita nggak tetap, jawaban "ya dua-duanya aja" rasanya kayak becanda yang nggak lucu.
Jadi mari kita bandingkan dua pilihan ini dengan kepala dingin, bukan pakai feeling.
Kenapa Freelancer Lebih Rawan Galau Soal Dua Pilihan Ini
Pekerja kantoran punya gaji yang datang di tanggal yang sama tiap bulan. Kita? Bulan ini bisa gemuk, bulan depan bisa kurus. Kadang dua proyek selesai bareng, kadang tiga minggu sepi tanpa transfer masuk.
Baca juga: Uang Pensiun Cepat Habis? Hindari 5 Jebakan Ini
Kondisi itu bikin dua pilihan tadi terasa kayak taruhan. Kalau kita pakai semua uang buat lunasin utang, terus bulan depan sepi orderan, kita panik dan akhirnya utang lagi. Kalau kita nabung terus utang dibiarkan, bunga jalan terus dan diam-diam memakan penghasilan yang nggak seberapa itu.
Nah, masalahnya bukan di pilihan mana yang "lebih benar". Masalahnya di urutan dan porsi.
Pilihan A: Nabung Dulu, Utang Belakangan
Kedengaran bijak, kan? Buku-buku keuangan selalu bilang "bayar diri sendiri dulu". Tapi ada syarat yang jarang disebut: ini cuma masuk akal kalau utangmu murah bunganya dan kamu punya disiplin.
Kalau kamu punya utang dengan bunga rendah, misalnya cicilan ringan ke keluarga atau pinjaman tanpa bunga, menabung dulu sebenarnya masuk akal. Kamu butuh bantalan kas. Freelancer tanpa dana darurat itu kayak jalan tanpa rem: sekali ada klien kabur atau proyek batal, langsung goyang.
Tapi jujur aja, gue pernah coba cara ini dan hasilnya kurang bagus. Dulu gue nabung sambil pelan-pelan bayar utang kartu kredit. Masalahnya, tabungan gue nggak pernah sampai angka aman karena tiap ada kebutuhan mendadak, tabungan itu yang jadi sasaran pertama. Sementara utangnya jalan terus dengan bunga yang lumayan.
Jadi kalau kamu pilih jalur ini, pastikan tabunganmu benar-benar dipisah. Bukan di rekening yang sama dengan rekening harian.
Pilihan B: Lunasin Utang Dulu, Nabung Nanti
Ini pilihan yang terasa lebih "dewasa". Dan untuk utang berbunga tinggi — kartu kredit, pinjol, paylater dengan denda — ini hampir selalu jawaban yang benar.
Coba hitung sederhana. Kalau utangmu Rp5 juta dengan bunga efektif 2 persen per bulan, kamu membayar sekitar Rp100 ribu per bulan cuma untuk bunganya. Itu uang yang hilang tanpa kamu nikmati. Sementara tabungan dengan bunga 3 persen per tahun cuma memberi sekitar Rp12.500 per bulan dari jumlah yang sama. Matematikanya nggak perlu sarjana.
Selama masih ada utang berbunga tinggi, "nabung" itu sebenarnya kamu membayar bunga ke bank sambil menabung dengan imbal hasil yang jauh lebih kecil. Namanya rugi halus.
Tapi ada jebakan. Kalau kamu all-in lunasin utang sampai tabungan nol, kamu jadi rentan. Satu saja musibah kecil — laptop rusak, gigi sakit, motor mogok — dan kamu kembali berutang. Ini yang bikin banyak freelancer muter di tempat.
Jalan Tengah yang Lebih Realistis
Gue akhirnya pakai cara ini dan sampai sekarang masih jalan: bikin dana darurat mini dulu, baru gas lunasin utang.
Dana darurat mini itu bukan enam bulan pengeluaran. Cukup satu bulan biaya hidup, atau sekitar Rp2–3 juta buat kebanyakan freelancer lajang. Anggap ini "uang jangan disentuh" yang fungsinya cuma satu: mencegah kamu berutang lagi.
Setelah itu terkumpul, baru deh semua sisa uang mengalir ke pelunasan utang. Urutkan dari bunga tertinggi ke terendah. Kalau utangmu banyak, fokus satu per satu, jangan dicicil semuanya bersamaan — hasilnya nggak kelihatan dan bikin putus asa.
Cara Membagi Uang Saat Penghasilan Tidak Tetap
Karena kita nggak punya gaji tetap, jangan pakai persentase dari "gaji bulanan". Pakai persentase dari setiap pembayaran yang masuk. Begitu klien transfer, langsung belah saat itu juga, sebelum uangnya terasa "ada".
- 50 persen untuk biaya hidup dan operasional kerja (internet, listrik, tools)
- 20 persen untuk pelunasan utang — naikkan jadi 30 persen kalau bunganya tinggi
- 20 persen untuk dana darurat sampai target tercapai, lalu pindah ke tabungan tujuan
- 10 persen untuk pajak dan sisihan wajib lainnya
Kalau bulan itu penghasilanmu kecil, jangan skip pos utang. Kecilkan porsinya, tapi tetap bayar. Konsistensi lebih penting daripada nominal besar yang cuma sekali.
Dan satu hal yang sering dilupakan: catat pengeluaran. Bukan buat gaya-gayaan, tapi buat tahu ke mana uangmu bocor. Gue sendiri kaget waktu sadar langganan aplikasi dan kopi harian gue setara dengan satu cicilan utang tiap bulan. Sejak itu gue nggak pernah lagi ngerasa "uang gue habis ke mana, ya?".
Jadi, Pilih yang Mana?
Kalau utangmu berbunga tinggi, jawabannya jelas: amankan dana darurat mini dulu, lalu serang utangnya. Kalau utangmu ringan dan tanpa bunga, nabung sambil mencicil pelan-pelan itu pilihan yang sah — asal tabungannya benar-benar dipisah dan nggak kamu pakai buat jajan.
Yang penting, berhenti pakai feeling. Duduk sepuluh menit, tulis semua utang beserta bunganya, tulis pengeluaran wajibmu, lalu tentukan angka. Freelancer yang keuangannya rapi bukan yang penghasilannya paling besar, tapi yang paling jelas tahu ke mana uangnya pergi.
Gue sendiri butuh dua tahun salah-salah dulu sebelum nemu ritme yang pas. Jadi kalau kamu masih galau di antara dua pilihan ini, itu normal. Yang nggak normal itu kalau kamu terus galau tanpa pernah menghitung apa pun.